Search
  • paulusbsuranto

ASURANSI TRADISIONAL, UNIT-LINK DAN INVESTASI

www.facebook.com/pbsrfp



Barusan membaca di salah satu lini masa teman saya, sebuah posting-an (dari orang lain) yang mengutarakan kekecewaan seorang nasabah asuransi yang tidak mendapatkan uang hasil investasi seperti yang “dijanjikan” agen asuransi-nya.

Pada kesempatan ini saya hanya ingin meluruskan dan menegaskan, bahwa produk asuransi manfaatnya adalah memberikan perlindungan, memberikan proteksi atas penghasilan, kesehatan, kewajiban terhadap bank, biaya sekolah anak, biaya hidup di masa pensiun, warisan untuk orang tercinta…..intinya memberikan perlindungan untuk kehidupan yang berkualitas.

Jadi, jika tujuannya untuk investasi, sebaiknya tidak melalui instrumen asuransi, melainkan melalui instrumen investasi seperti misalnya reksadana, obligasi, saham dan sebagainya.

Asuransi bukan untuk investasi.

Lalu, bagaimana dengan unit-link ? Bukankah itu kombinasi antara asuransi dan investasi ? Ya benar. Tapi tujuan utamanya bukan untuk investasi. Lalu mengapa orang banyak yang mengambil produk asuransi unit-link ? Begini alasannya…

Semua produk asuransi, apakah itu yang tradisional ataupun yang unit-link, biaya asuransi-nya akan naik seiring dengan bertambahnya usia si nasabah. Pada prinsipnya, apakah asuransi term-life (dengan jangka tertentu) maupun yang whole-life (seumur hidup, yang saat ini dibatasi hingga usia 100 tahun), biaya asuransi-nya harus terus dibayar oleh nasabah hingga jangka waktu yang dipilihnya.

Untuk produk unit-link, ada bagian dari premi nasabah yang di-investasikan oleh perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi yang bonafide, yang memiliki reputasi bagus dan global, meng-investasikan sebagian dari dana premi nasabah itu ke instrumen investasi secara ter-diversifikasi dan berdasarkan pengalaman puluhan tahun untuk meminimalisasikan resiko-nya. Meskipun demikian, hasil investasi hanya bisa diperkirakan, berdasarkan data statistik yang telah pernah terjadi, dan tidak bisa dipastikan.

Untuk produk tradisional, pada prinsipnya jika nasabah tidak membayar premi setelah – katakan – tahun ke-2, maka polis-nya tidak berlaku lagi (lapsed), perlindungan/proteksinya berhenti dan nasabah tersebut tidak mendapatkan apa-apa. Memang premi produk asuransi tradisional lebih murah dibandingkan dengan produk unit-link. Namun produk tradisional tidak memiliki fleksibilitas.

Berbeda dengan produk unit-link. Karena sebagian premi pada produk unit-link di-investasikan, maka jika nasabah tidak membayar premi setelah tahun ke-2 (misalnya), maka polis-nya masih bisa berlaku (tidak lapsed), karena premi-nya bisa dibayarkan dari nilai tunai yang dihasilkan oleh porsi investasi-nya, selama nilai tunai hasil investasi tersebut masih mencukupi untuk membayar biaya asuransinya.

Dan jika karena suatu alasan nasabah tidak bisa melanjutkan asuransi-nya, meskipun perlindungan/proteksinya berhenti namun yang bersangkutan bisa masih mendapatkan dana tunai dari hasil investasinya, bergantung dari hasil kinerja investasinya.

Ilustrasi diagram sederhana di atas mungkin bisa sedikit lebih menjelaskan.

Biaya asuransi akan terus meningkat seiring bertambahnya usia nasabah. Jika nasabah ini pada usia 35 tahun mengambil produk tradisional, katakan (contoh) dia membayar premi

Rp. 1,2 juta/bulan. Namun ketika dia kemudian berusia 40 tahun, biaya asuransi yang harus dibayarkan sudah meningkat, hingga premi yang harus dibayarkan menjadi

Rp. 1,8 juta/bulan. Dan begitu selanjutnya hingga selesainya masa pertanggungan asuransinya.

Jika nasabah yang sama mengambil produk unit-link, pada usia 35 tahun dia membayar premi Rp. 1,5 juta/bulan. Memang lebih tinggi daripada jika dia mengambil produk tradisional. Kelebihan pembayaran premi-nya ini, adalah porsi investasinya (area merah). Ketika dia berusia 40 tahun, biaya asuransi meningkat (sama saja dengan produk tradisional), namun peningkatan biaya ini sudah bisa ditanggulangi dengan porsi hasil investasinya (area hijau), hingga premi yang harus dibayarkan oleh nasabah tidak berubah, tetap Rp. 1,5 juta/bulan. Selain itu, meskipun pada prinsipnya biaya asuransi harus terus dibayar oleh nasabah hingga berakhirnya masa pertanggungannya, namun pada unit-link, jika hasil kinerja investasinya bagus, nasabah bisa “cuti premi” (tidak lagi membayar premi) sepanjang dana tunai dari investasi-nya masih mencukupi untuk membayar biaya asuransi-nya. Dan bisa saja ini berarti tidak perlu lagi membayar premi setelah tahun ke-10, misalnya.

Jadi intinya, asuransi adalah instrumen untuk perlindungan/proteksi, bukan untuk investasi. Dan hasil investasi (apapun) tidak bisa dijanjikan, karena bergantung dari berbagai macam faktor.

Demikian sedikit penjelasan, semoga ada manfaatnya.



6 views
 
  • Facebook
  • Twitter

©2020 by Bambang Suranto. Proudly created with Wix.com