Search
  • paulusbsuranto

"ALERGI" TERHADAP ASURANSI JIWA


Tak bisa dibantah, masih cukup banyak orang yang "alergi" terhadap asuransi jiwa. Penolakan orang terhadap asuransi jiwa biasanya karena alasan yang berikut :


1. Tidak percaya dengan perusahaan asuransinya. Khawatir nanti uangnya dibawa kabur.


2. Dengan harus membayar dimuka secara rutin, untuk sesuatu yang mungkin tidak akan pernah digunakan manfaatnya, terasa bagaikan buang-buang uang.


3. Merasa lebih baik menabung sendiri, bisa dikontrol sendiri uangnya, dan jika diperlukan bisa diambil kapan saja.


4. Mendengar cerita bahwa banyak nasabah yang klaim-nya ditolak, yang berarti menabung sekian lama tapi tidak ada hasilnya, dan ini sangat merugikan nasabah.


5. Pengajuan klaim yang rumit dan berbelit-belit, seakan disengaja untuk menghindar dari tanggungjawab.


6. Agen asuransi yang "nyebelin", selalu memaksakan kehendak dan tidak mau mendengarkan calon nasabahnya.



SAYA AKAN MENJAWAB DENGAN SANGAT OBYEKTIF...


1. Saat ini kekhawatiran dan ketidakpercayaan terhadap perusahaan asuransi-nya sudah sangat jauh berkurang. Terutama untuk perusahaan asuransi kelas dunia. Di era komunikasi digital secara online, akan sangat mudah mendapatkan informasi mengenai sebuah perusahaan asuransi. Berapa total kekayaannya, dan ada di negara-negara mana saja jangkauannya. Banyak orang sudah paham soal ini. Satu hal yang mungkin tidak semua orang tahu adalah kenyataan bahwa perusahaan asuransi tidak sendiri menanggung resiko para nasabahnya. Perusahaan asuransi mengasuransikan lagi sebagian resiko itu ke perusahaan "re-insurance". Dan perusahaan asuransi kelas dunia akan mengasuransikan resiko para nasabahnya ke perusahaan

"re-insurance" kelas dunia juga, yang juga memiliki kekayaan yang tersebar di beberapa negara. Dengan kenyataan ini, perlindungan atas resiko para nasabah akan jauh lebih aman lagi.


2. Sedikit ironi menyadari bahwa banyak orang yang selalu mengasuransikan kendaraannya, namun belum mengasuransikan dirinya atau keluarganya. Padahal prinsip keduanya sebenarnya sama. Kita membeli asuransi memang tidak mengharapkan bahwa resiko akan terjadi. Baik nasabah maupun perusahaan asuransi tidak ada yang mengharapkan resiko terjadi. Namun demikian semua kita menyadari bahwa kenyataan hidup, yakni sakit dan meninggal dunia tidak bisa dihindari...PASTI akan terjadi, entah kapan.


3. Yang juga merupakan prinsip dari asuransi adalah "menabung kecil" secara rutin sekarang untuk "dana besar" ketika resiko terjadi. Katakan sesorang menabung Rp. 3 juta/bulan. Dengan bunga bank 7.5% setahun, agar tabungannya mencapai Rp. 3 milyar diperlukan waktu 27 tahun ! Menabung Rp. 3 juta/bulan adalah kegiatan yang bisa direncanakan. Namun, ketika resiko terjadi, misalnya harus transplantasi ginjal, dana Rp. 3 milyar itu harus ada, tidak bisa ditunda. Kita juga tidak bisa "nego" agar resiko itu terjadi 27 tahun lagi. Dengan menabung Rp. 3 juta/bulan di asuransi, dana Rp. 3 milyar itu (bahkan lebih) akan TERSEDIA SETIAP SAAT resiko terjadi.


4. Kenyataannya, jika klaim mengikuti prosedur dan sesuai dengan ketentuan, seberapa besarnya pun klaim itu PASTI akan dibayar. Sementara, jika klaimnya tidak mengikuti prosedur dan tidak sesuai dengan ketentuan, maka sekecil apapun klaimnya akan ditolak. Sesederhana itu.


5. Adalah tugas agen asuransi untuk membantu nasabah-nya mengajukan klaim. Syarat dan prosedur klaim juga sangat masuk akal, yakni bahwa perusahaan asuransi akan meminta : bukti bahwa nasabah mengalami resiko yang di-klaim ; bukti bahwa nasabah memiliki polis dari perusahaan asuransi dimana klaim diajukan ; bukti bahwa polis yang dimiliki nasabah memang melindungi nasabah dari resiko yang di-klaim. Sangat logis dan tidak rumit. Apalagi kini banyak perusahaan asuransi yang mempermudah klaim yang bisa dilakukan cukup melalui online.


6. Memang, harus diakui bahwa "oknum" ada di segala bidang. Tapi tentunya kita tidak bisa men-generalisasi-kan nya. Sebagai analogi, andaikata kita membeli McD di gerai Ciledug (hanya perumpamaan), dan kemudian pada burger yang kita makan ada binatangnya. Artinya pengolahan dan penyajiannya tidak higienis. Kemungkinan besar kita tidak akan lagi mau ke McD Ciledug. Namun kita akan tetap ke McD di gerai lainnya.



4 views
 
  • Facebook
  • Twitter

©2020 by Bambang Suranto. Proudly created with Wix.com